Katri: Memoar Ketangguhan Perempuan Penyintas 1965

Mei 04, 2026

 

Memoar emosional tentang keteguhan penyintas 1965 yang memilih berdamai dengan masa lalu.

•••

Identitas buku:
Judul: Katri
Penulis: Adeste Adipriyanti
Penerbit: KPG
Tahun: 2025
Jumlah: 249 halaman
ISBN: 9786231343833
Kategori: Novel, fiksi, 1965, kekerasan

•••

Blurbnya:

Desa Trunuh, Oktober 1965.

Tiga hari setelah suaminya menghilang, Katri ditembak. Ia tengah hamil anak pertama. Usia kandungannya tujuh bulan saat peluru dimuntahkan dari jarak amat dekat agar hidupnya benar-benar tamat. Katri mengira, delapan belas tahun hidupnya telah berakhir di titik itu.

Keindahan masa remajanya lenyap dalam sekejap. Kegiatan kesenian yang disenanginya ternyata ancaman bagi sekelompok orang yang ingin ia ditangkap.

Sejak saat itu, rentetan kemalangan datang susul-menyusul. Ia dibawa dari satu kamp ke kamp lain, dari satu penjara ke penjara lain. Bagi Katri, hidup tak memberikan pilihan selain bertahan.

Pertanyaannya, untuk siapa Katri bertahan?

•••

Garis besarnya:

Katri adalah potret perempuan 18 tahun dari Desa Trunuh, Klaten, yang hidupnya berubah karena prahara politik 1965. Masa mudanya hilang seketika setelah dia mengandung anak dari Agus, seorang aktivis yang diburu negara. Saat rumahnya digeledah tentara, Katri mencoba melawan hingga pipinya ditembus peluru. Dia memang selamat, tetapi kejadian itu membawanya ke dalam siklus penjara dan interogasi panjang tanpa henti.

Selama bertahun-tahun, Katri dipindahkan dari satu penjara ke penjara lain, mulai dari kamp tahanan, Seskoal, hingga sempat masuk ke Rumah Sakit Jiwa. Dia terus mengalami kekerasan sistemik, termasuk diperkosa oleh aparat hingga melahirkan anak kedua yang tidak diinginkan. 

•••

Resensinya:

Buku pertama Adeste Adipriyanti yang saya tuntaskan. Saya mendapatkan novel yang masuk dalam nominasi Prosa Pilihan Tempo 2025, bersaing dengan Ikhtiar yang Tak Benar-Benar–yang kemudian keluar menjadi juara, dari seorang teman baik di Malang. Sebenarnya, tema-tema semacam ini sudah jamak pada karya fiksi kita, meski tidak melulunya tahun 1965. Namun, tidak ada salahnya menilik kembali sejarah melalui sosok Katri, bukan? 

Sebagai fiksi sejarah yang berangkat dari memoar penyintas di Desa Trunuh, Klaten–sampai resensi ini ditulis, beliau masih sehat walafiat–Katri terasa sangat personal sekaligus emosional dalam menceritakan tragedi 1965.

Katri, sebuah novel yang menelusuri keteguhan seorang perempuan yang hidupnya dipaksa berurusan dengan represi politik 1965.

Melalui Katri, pembaca dipaksa melihat bagaimana kekerasan 1965 bisa menyasar siapa saja tanpa pandang bulu, dan bagaimana negara menghancurkan hidup perempuan yang bahkan tidak tahu apa-apa soal peta politik saat itu.

Katri adalah saksi hidup betapa mengerikannya ruang-ruang gelap penjara militer ketika perempuan ditahan tanpa pengadilan dan tanpa pembuktian hukum, mengalami kekerasan seksual dan siksaan selama belasan tahun, hingga dipaksa menyaksikan kekejaman terhadap sesama tahanan di depan mata kepalanya sendiri hanya karena dianggap berafiliasi dengan organisasi kiri. Novel ini memotret kacamata korban yang tidak bersalah, yang dipaksa menanggung beban situasi yang tidak pernah mereka pilih. 

Meski demikian, Adeste tetap menonjolkan sisi humanis yang menghangatkan di tengah bab-bab menyesakkan. Bukan cuma soal romansa antara laki-laki dan perempuan, tetapi ikatan tulus dengan keluarga (ayah, ibu, kakak-kakak, dan anaknya), sahabat, dan sesama tapol perempuan yang tetap ada untuk saling menguatkan saat dunia tidak lagi berpihak. Kehadiran mereka menjadi penopang Katri, terutama saat dia kembali ke masyarakat dan berhadapan dengan stigma yang sudah terlanjur mengakar kuat. Kontras inilah yang justru menguatkan kemanusiaan dan memberikan kedalaman emosi pada ceritanya. 

Narasi novel ini ditulis dengan tenang, tanpa amarah yang meledak-ledak. Katri seolah menuntun kita untuk belajar menerima dan memaafkan, seperti filosofi nrimo ing pandum. Bukan pasrah, tetapi bentuk ketangguhan jiwa untuk berdamai dengan kenyataan yang pahit. Katri memilih untuk tidak menggugat kenapa, melainkan fokus merawat keyakinan dan harapan sebagai satu-satunya upaya agar tetap kuat bertahan hidup. 

Penceritaan dengan sudut pandang orang ketiga membuat Katri sangat nyaman dinikmati. Plotnya linear, tidak terburu-buru atau melebar ke mana-mana, dengan diksi yang mudah dipahami. Kehadiran ilustrasi dari Audrey Murty pun turut memperkuat visualisasi tiap jengkal kehidupan yang dijalani Katri.Buku ini saya rekomendasikan untuk pembaca dewasa muda atau pencinta fiksi sejarah yang ingin mengenal narasi alternatif tragedi '65 tanpa perlu merasa terintimidasi oleh beban ideologi yang berat. Namun, bagi pembaca yang mencari pendekatan historis atau cerita-cerita perjuangan yang menggugat, mungkin tidak akan mendapatkannya di sini. Katri lebih menyajikan narasi emosional penyintas ketidakadilan 1965. Katri adalah pengingat tentang pentingnya menolak lupa atas kekerasan yang pernah terjadi."Kejahatan negara di masa lalu sembuh bukan karena waktu, tapi karena pengakuan. Lantas, bagaimana masa depan tanpa kekerasan bisa terwujud jika hari ini kita tidak lagi menyediakan ruang untuk merawat ingaSejarah berulang bukan karena kita lupa, tapi karena kita memilih untuk tidak peduli atau bersikap abai.

•••

Kutipannya:

Sekolah bakal membebaskanmu dari kebodohan. (Hal. 12)

Mengapa ada orang suka memelihara burung dalam sangkar bila sesungguhnya kita bisa melihat gerombolan burung terbang melintas di langit tinggi dan menikmati paduan suara mereka di alam bebas. (Hal. 14)

… kenyataan tidak seadil dan seelok yang ada dalam angan. (Hal. 16)

Kepada siapa dan kenapa kita terpikat tak ada yang tahu serta diliputi misteri. Urusan hati ternyata tidak bisa disetel atau diatur - atur seperti halnya tape recorder. (Hal. 26)

Mereka tidak menyadari bahwa untuk merangkak naik tidak semudah saat jatuh, apalagi kalau terlanjur terperosok jauh ke dalam. (Hal. 38)

Sulit sekali memikirkan hal - hal menyenangkan di masa penuh ketegangan dan kecemasan. (Hal. 64)

Bagaimana cara belajar merelakan? Apakah dengan membiasakan diri melihat satu per satu yang dimiliki direnggut begitu saja tanpa bisa melawan? (Hal. 76)

Bukankah hidup tanpa gejolak di masa-masa genting adalah sesuatu yang patut disyukuri? (Hal. 87)

Kematian begitu dekat. Ketika seseorang mati, ke manakah jiwanya? Apa yang ingin ia katakan kepada yang masih tertinggal di dunia? Jika aku mati, apa yang mau aku katakan kepada keluargaku? (Hal. 100)

Hewan apa pun bahkan lebih baik dari manusia-manusia penyiksa ini. Hewan membunuh untuk bertahan hidup, sedangkan manusia yang berkuasa menyiksa untuk kepuasan nafsu …. Semua yang ia lihat di dalam tahanan sungguh mematikan rasa percayanya kepada manusia, inikah manusia yang katanya lebih mulia dari segala ciptaan Tuhan di muka bumi karena dianggap memiliki akal dan hati nurani? (Hal. 104)

Perjalanan hidup sungguh berlumur misteri. Ketika mulai terbiasa hidup dalam ketakutan, rasa takut tak lagi menakutkan. (Hal. 104–106)

Ya, setiap orang bertahan hidup dengan cara masing-masing. (Hal. 107)

Tak ada ruginya mati hari ini …. Menyerah sungguhlah menggoda. (Hal. 110)

Hidup tidak bisa dijalani dengan skenario “andai saja”. (Hal. 116)

Jadi manusia harus terampil menderita, terlebih bagi perempuan. Siapa lagi yang bisa merawat perempuan kalau bukan dirinya sendiri? (Hal. 117)

Saya yakin suatu hari saya aka bebas. Entah dari mana keyakinan saya berasal, tapi saya yakin. (Hal. 143)

Mungkin karena saya merasa sering dikecewakan dalam hidup, bikin takut berharap. Padahal apa lagi yang kita punya selain harapan? (Hal. 143)

Hidup memang tidak bisa ditebak. (Hal. 143)

Mungkin karena saya merasa sering dikecewakan dalam hidup, bikin takut berharap. Padahal apa lagi yang kita punya selain harapan? (Hal. 143)

Ya, hidup memang tidak bisa ditebak, sama halnya dengan kepada siapa hati kita terpikat. (Hal. 144)

Pelajaran yang ia dapatkan selama di tahanan: kapan saja bisa jadi hari terakhirmu. (Hal. 145)

Perpisahan sewaktu-waktu akan datang. Sebelum hal itu benar-benar terjadi, tak perlulah dirisaukan. (Hal. 148)

Waktu bisa berperangai aneh, sering kali tidak berpihak pada kebahagiaan. Jika hati sedang berbunga-bunga, waktu yang mereka lalui bersama buru-buru berlalu. (Hal. 148)

Kehidupan harus terus berlanjut meskipun ada hal-hal yang ingin dia hapus. (Hal. 150)

Apakah boleh seorang ibu tidak mencintai anaknya? (Hal. 152)

Perasaan yang dipendam bikin sakit. (Hal. 165)

Kamu sudah melalui banyak hal. Kalau Gusti Allah mengizinkan kamu sampai di titik ini, bukankah seharusnya kamu bisa melewati jalan selanjutnya? (Hal. 226)

Buat saya pun sama. Hari-hari ke depan mungkin tetap tidak akan mudah, tapi bila dijalani  bersama seharusnya lebih ringan. (Hal. 231)

Kita berhak jadi baik. (Hal. 235)

Aku pasti selamat. Usiaku bakal lewat 70 tahun dan sehat. Anakku sehat. Hidupku tidak sia-sia. (hal.238)

Saya merasa enggak pernah kekurangan, meski dalam hidup, banyak yang diambil dari saya. (Hal. 245)

Ibu tidak sempat mendendam, lagian dendam itu butuh energi besar. (Hal. 245)

Kita jadi keras karena memang hidup tidak memberi pilihan apa-apa selain bertahan dan harus sukses. (Hal. 247)

You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts