Orang-Orang Oetimu: Sebuah kampung kecil di Timor yang memantulkan wajah sejarah, kekuasaan, dan manusia Indonesia.

Agustus 06, 2026


Oetimu mungkin hanya sebuah kampung fiktif di Timor, tetapi persoalan yang tumbuh di dalamnya terasa begitu dekat: sejarah, agama, pendidikan, kemiskinan, hingga kuasa yang diam-diam mengatur kehidupan sehari-hari. Simak resensi buku Orang-Orang Oetimu selengkapnya berikut ini.

•••


Identitas buku:

Judul: Orang-Orang Oetimu

Penulis: Felix K. Nesi

Penerbit: Marjin Kiri

Tahun: Cetakan kelima: 2022

Jumlah: viii + 220 halaman

ISBN: 9789791260893

Kategori: fiksi, etnografis Timor, satire, slice of life


•••


Blurbnya:

Oetimu: suatu wilayah kecil di pelosok Nusa Tenggara Timur. Masa itu adalah paruh kedua 1990an, dan kejadian-kejadian di wilayah Indonesia selebihnya mau tak mau berdampak kepada kehidupan sosial orang-orang di kampung yang terpencil itu. Kolonialisme Indonesia di Timor Timur kian disorot dunia internasional, sementara warisan kekerasan antara militer Indonesia dan gerilyawan Fretilin ikut menyebar ke wilayah sekitarnya, demonstrasi menentang Soeharto kian marak di kalangan mahasiswa, dan Brazil berhadap-hadapan dengan  Prancis di final Piala Dunia.


Novel mengasyikkan yang menggambarkan masyarakat Timor Barat dengan segala kepelikannya, di mana gereja, negara, dan tentara berperan besar dalam kehidupan sosial. O ya, juga sopi dan seks.


•••


Resensinya:

Membaca Orang-Orang Oetimu karya Felix K. Nesi seperti mendengar banyak orang bercerita tentang hidup dari satu kampung kecil di Nusa Tenggara Timur. Namun, Oetimu hanyalah titik berangkat. Lewat kampung itu, Felix berbicara tentang sejarah, kekuasaan, agama, pendidikan, kemiskinan, cinta, hingga cara masyarakat bertahan di tengah perubahan zaman.


Ceritanya dibuka dengan acara nonton bersama final Piala Dunia 1998 di rumah Sersan Ipi yang sekaligus mengumumkan rencana pernikahannya dengan Silvy. Dari sana, alur bergerak maju-mundur mengikuti kehidupan banyak tokoh: Martin Kabiti, Atino, Laura, Am Siki, Romo Yosef, Maria, Silvy, Linus, dan lainnya. Jumlah tokohnya memang sangat banyak, tetapi justru menjadi kekuatan novel ini. Masing-masing membawa kisahnya sendiri, lalu perlahan saling bertemu dan menjelaskan kehidupan tokoh-tokoh yang lain.


Novel ini memotret lintasan sejarah Indonesia dari sudut pandang masyarakat Oetimu dan Timor. Mulai dari masa kolonial Belanda, Portugis, dan Jepang, peristiwa 1965, konflik Timor Timur, kerusuhan Mei 1998, hingga Reformasi. Namun, sejarah di sini bukan sekadar latar waktu. Felix memperlihatkan bagaimana peristiwa-peristiwa besar tersebut meninggalkan jejak pada kehidupan orang-orang biasa.


Salah satu kekuatan terbesar novel ini terletak pada cara Felix menggambarkan bagaimana kekuasaan bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Negara, tentara, gereja, sekolah, bahkan media perlahan membentuk cara masyarakat memandang dunia. Pendidikan menjadi sesuatu yang mahal dan sulit dijangkau. Sekolah berubah menjadi simbol prestise. Iklan televisi membentuk ukuran kecantikan. Bahasa asing dianggap lebih bergengsi. Bahkan makanan pun tidak luput dari hierarki; nasi dipandang lebih tinggi daripada jagung atau singkong yang selama ini menjadi pangan masyarakat setempat.


Semua kritik itu tidak disampaikan dengan nada menggurui. Felix justru membungkusnya dengan humor, satire, ironi, dan keluguan para tokohnya. Di balik berbagai adegan yang mengundang tawa, pembaca akan menemukan kisah-kisah yang getir tentang kemiskinan, kekerasan, diskriminasi, dan penyalahgunaan kekuasaan. Adegan erotisnya pun cukup gamblang. Sebagian besar masih berfungsi sebagai bagian dari perkembangan cerita. Namun, satu adegan terasa kurang meyakinkan secara psikologis, yaitu ketika korban kekerasan seksual digambarkan menikmati pemerkosaannya.


Secara keseluruhan, Orang-Orang Oetimu bukan hanya novel tentang masyarakat di pelosok Nusa Tenggara Timur, melainkan juga tentang bagaimana kekuasaan dapat hadir dalam berbagai bentuk dan perlahan memengaruhi cara manusia berpikir, percaya, dan menjalani hidup. Felix K. Nesi berhasil merangkai sejarah, tragedi, humor, dan kritik sosial menjadi kisah yang terasa hidup tanpa kehilangan sisi manusianya.


Bagian mana dari kehidupan sehari-hari yang menurutmu paling sering dipengaruhi oleh kekuasaan tanpa kita sadari?


•••


Kutipannya:

Kita semua mempunyai ayah untuk kita kenang. (Halaman 17)


Betapa susahnya hidup ini: tanpa melakukan apa-apa kita tetap mengeluarkan uang untuk membayar negara. (Halaman 74)


Apakah yang berharga di mata Tuhan? Ialah hati yang terbuka. Hati yang menerima dan mau mengampuni. Hati yang penuh dengan cinta. Tuhan akan menjaga kita dan memberikan yang terbaik untuk kita. Hanya kadar keimanan dan rasa syukur kita yang selalu berkurang. (Halaman 128)


Di dunia yang fana ini, uang bisa membeli kebahagiaan, kalau kau tahu cara menggunakannya. (Halaman 137)


Mengapa untuk disebut terpelajar, mereka harus membayar sangat mahal untuk istilah-istilah asing. (Halaman 139)


Apakah doa hanya cara kecil melipur hati yang perih. (Halaman 146)


Dunia terlalu brengsek. Ia akan selalu menemukan cara untuk menyakiti. (Halaman 159-160)


“Makanya, kalau tidak percaya kepada cerita bangsa sendiri, jangan dengarkan juga omong kosong bangsa lain.” (halaman 216)


You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts