Pangeran Cilik: Menengok Sisi Kekanak-kanakan yang Hilang di Dunia Orang Dewasa
Juli 13, 2026Lewat perjalanan antargalaksi seorang pangeran kecil, kita diajak melihat betapa ganjilnya isi kepala orang dewasa yang kerap menghabiskan waktu demi mengejar angka, jabatan, dan validasi, berikut review novel selengkapnya.
•••
Identitas buku:
Judul: Pangeran Cilik (Le Petit Prince)
Penulis: Antoine de Saint-Exupéry
Penerbit: GPU
Tahun: Cetakan ke-35: 2025
Jumlah: 120 halaman
ISBN: 9786020323411
Kategori: Novela, fiksi, klasik, buku anak, petualangan
•••
Blurbnya:
Pangeran Cilik termasuk buku yang paling banyak diterjemahkan di dunia. Konon pernah disadur ke dalam 230 bahasa asing. Buku ini memang luar biasa. Tampaknya seolah cerita anak-anak, tapi sebenar-benarnya dinikmati dan direnungkan juga oleh orang dewasa. Lewat cerita seorang anak yang mengamati dunia dengan mata naif dan lugu, Saint-Exupéry menyentuh beberapa nilai dan pengalaman manusia yang paling dasar, seperti kekuasaan, tanggung jawab, dan cinta. Dongeng yang mengharukan sekaligus amat mendalam ini termasuk karya-karya agung sastra dunia yang tidak terlupakan.
•••
Resensinya:
Membaca Pangeran Cilik karya Antoine de Saint-Exupéry menghadirkan pengalaman yang unik. Sekilas buku ini tampak seperti dongeng anak dengan ilustrasi sederhana dan cerita yang ringan. Di balik kesederhanaannya tersimpan renungan tentang cara manusia memandang hidup.
Ceritanya mengikuti perjalanan seorang pangeran kecil yang meninggalkan planetnya dan mengunjungi berbagai planet lain sebelum akhirnya tiba di Bumi. Dalam perjalanannya dia bertemu berbagai orang dewasa: seorang raja yang terobsesi pada kekuasaan, pria yang ingin dikagumi, pemabuk yang minum untuk melupakan kesengsaraan dirinya, pengusaha yang sibuk menghabiskan hidup dengan kerja untuk mengumpulkan kekayaan, petugas penerangan jalan yang terus menerus sibuk dengan pekerjaannya, ahli geografi yang mencintai ilmunya–tetapi bergantung pada penjelajah untuk mendapatkan informasi, hingga ketika di Bumi, ia bertemu dengan seekor ular, seekor rubah, seorang petugas pengatur jalur kereta api, seorang pedagang, dan seorang pilot yang terdampar di gurun.
Melalui tokoh-tokoh ini, Saint-Exupéry memberikan ilustrasi manusia yang terbelenggu oleh batasan yang ditetapkan dunia atau–mungkin–oleh diri mereka sendiri, serta mengajak pembaca mempertanyakan kebiasaan-kebiasaan orang dewasa yang menganggap diri mereka penting, seringkali berpikir rumit untuk hal-hal sederhana, terlalu fokus pada hal-hal spesifik dan praktis, sekaligus kehilangan kemampuan menikmati hal-hal yang memberi makna pada hidup (inner child).
Novel ini memperlihatkan bagaimana dunia masyarakat modern untuk orang dewasa. Selain itu, Pangeran Cilik juga berangkat dari pertentangan cara pandang anak-anak dan orang dewasa. Ketika orang dewasa sibuk mengejar angka, jabatan, kepemilikan, validasi, terjebak rutinitas, obsesi, bahkan menilai karakter seseorang berdasarkan seberapa banyak uang yang dia hasilkan, atau berapa usianya, dan keindahan sebuah rumah berdasarkan harganya; anak-anak justru melihat dunia melalui rasa ingin tahu, imajinasi, kasih sayang, dan ketulusan hubungan antarmanusia.
Melalui perjumpaan dengan taman mawar dan rubah, pembaca diingatkan bahwa hal-hal yang paling berharga dalam hidup terlahir dari cinta, persahabatan, perhatian, waktu, dan tanggung jawab yang kita berikan.
Diksinya sederhana, ilustrasinya khas, dan ceritanya dapat diselesaikan dalam sekali duduk. Hampir setiap percakapannya menyimpan makna yang mengajak pembaca berhenti sejenak untuk memikirkan ulang cara memandang kehidupan.
Pangeran Cilik cocok dibaca oleh segala usia. Anak-anak dapat menikmatinya sebagai kisah petualangan, sedangkan bagi orang dewasa barangkali bisa menemukan kembali bagian dari dirinya yang perlahan sirna akibat terlalu sibuk mengejar tuntutan hidup. Saint-Exupéry mengingatkan bahwa menjadi dewasa bukan berarti kehilangan mimpi, imajinasi, rasa ingin tahu, ataupun kemampuan mencintai dengan tulus.
Menurutmu, apa yang paling sering hilang ketika seseorang tumbuh menjadi dewasa?
•••
Kutipannya:
Memilukan sekali, kalau melupakan teman. Tidak semua orang pernah mempunyai teman. Dan aku bisa menjadi seperti orang dewasa yang hanya memedulikan angka-angka. (Hal 22)
Mengadili diri sendiri lebih sulit daripada mengadili orang lain. Jika kamu berhasil, berarti kamu betul-betul orang yang bijaksana. (Hal. 47)
Karena orang dapat saja taat dan malas sekaligus. (Hal. 62)
Hanya lewat hati kita melihat dengan baik. Yang terpenting tidak tampak di mata. (Hal. 88)
Kamu bertanggung jawab untuk selama-lamanya atas siapa yang telah kamu jinakan. (Hal. 88)
Bintang-bintang itu indah karena setangkai bunga yang tidak dapat kita lihat. (Hal. 94)
Baik rumah, bintang-bintang, maupun gurun pasir, yang membuatnya indah tidak tampak di mata. (Hal. 95)
Yang kulihat ini hanya kulit, yang terpenting tidak tampak di mata. (Hal 95)
Tetapi mata itu buta, harus mencari dengan hati. (Hal. 99)
Orang mempunyai bintang yang berbeda-beda. Bagi mereka yang berlayar, bintang adalah pemandu. Bagi yang lain, mereka hanya lampu-lampu kecil. Bagi yang lain, para ilmuan, mereka adalah persoalan. Bagi pengusahaku, mereka adalah emas. Tetapi semua bintang itu membisu. Kamu akan mempunyai bintang-bintang yang berbeda dengan bintang orang lain. (Hal. 106)

0 Comments