Review Novel Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki: Teror Urban Legend Lewat Kompilasi Dokumen Palsu

Juni 02, 2026

Buku horor asal Jepang ini punya konsep yang tergolong unik karena disajikan dalam bentuk kolase berkas, mulai dari artikel majalah, transkrip wawancara, sampai utas forum internet. Pendekatan eksperimental tersebut sukses mengaburkan batas antara fiksi dan kenyataan, sehingga kita diajak ikut aktif menyusun sendiri potongan misterinya. Berikut review novel selengkapnya.


•••

Identitas buku:

Judul: Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki

Penulis: Sesuji

Penerbit: Phoenix Gramedia Indonesia

Tahun: 2025

Jumlah: 378 halaman

ISBN: 9786347128997

Kategori: Novel, fiksi, horor, urban legend

•••


Blurbnya:

TEMAN SAYA MENGHILANG.


Jika Anda memiliki informasi, mohon hubungi saya.


Teman saya adalah editor baru yang sempat memegang proyek untuk edisi tambahan majalah okultisme. Karena tugas tersebut, ia mengumpulkan dokumen dan materi dari berbagai sumber, hingga akhirnya menyadari keanehan yang tersembunyi di suatu tempat di wilayah Kinki ….


Buku ini merangkum berbagai tulisan dari sejumlah media yang ia dan saya kumpulkan. Sebagian besar dari tulisan di dalamnya memiliki keterkaitan dengan “suatu tempat” di wilayah Kinki.


Oleh karena itu, saya butuh bantuan. Jika Anda memiliki informasi, mohon hubungi saya.


•••


Resensinya:

Membaca novel Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki karya Sesuji ini memicu rasa penasaran yang sejak halaman pertama. Buku asal Jepang ini datang dengan membawa angin segar di ranah literatur horor, yaitu lewat pertautan format mockumentary dan found footage tekstual. Pendekatan eksperimental ini langsung mengikis jarak antara pembaca dan teks/narasi yang disajikan.


Buku ini menyentil bagaimana modernisasi berpotensi merusak tatanan lokal sekaligus melahirkan ketakutan baru. Folk horror di sini memanfaatkan ketakutan kita terhadap kepercayaan lama yang terikat pada waktu dan tempat. Ketika kemajuan zaman masuk, manusia yang semula menghidupkan entitas "dewa" justru berbalik mengabaikannya. Manifestasi amarahnya kemudian bermutasi menjadi kutukan dan legenda urban yang terus berkembang, mulai dari sosok putih tinggi di hutan, penampakan wanita misterius, kuil tua terbengkalai, tragedi massal di kompleks apartemen, hingga rentetan kejadian ganjil lainnya.


Secara teknis, novel ini disajikan lewat format berupa kolase dokumen, seperti potongan artikel majalah misteri, transkrip wawancara, surat kesaksian, email, hingga utas forum internet. Selain itu, Sesuji memberikan banyak detail misterius, seperti penggunaan simbol sensor bulat hitam ● untuk menyamarkan lokasi di wilayah Kinki, nama tokoh yang diganti inisial, serta lampiran sketsa/gambar di halaman belakang sebagai “Bahan Liputan”. Kombinasi ini sukses mengecoh pembaca dan memicu pertanyaan apakah seluruh kejadian menyeramkan ini benar-benar nyata atau sekadar imajinasi. Bahkan, atmosfer horornya mirip seperti ketika kita menelusuri kisah-kisah misteri kala larut malam, ada rasa tidak nyaman sekaligus rasa takut yang terus memantik kita untuk membalik halaman demi halaman.


Kenyamanan membaca buku ini juga didukung oleh kualitas terjemahannya yang mengalir dan enak dibaca. Di beberapa bagian, penerjemah menyertakan catatan kaki yang sangat membantu untuk menjelaskan istilah-istilah bahasa Jepang atau konteks kultural tertentu. Kesuksesan konsep horornya yang unik ini bahkan telah dialihwahanakan dalam versi komik (manga) serta diadaptasi menjadi film layar lebar live-action.


Buku ini sangat cocok untuk pencinta horor misteri yang siap merajut sendiri potongan puzzle dari format kompilasi dokumen ini. Sesuji tidak menjelaskan banyak hal secara langsung, sehingga pembaca dituntut aktif mengingat detail, menghubungkan setiap bagian, serta mencocokkan sendiri informasi acak yang tersebar di luar urutan waktu.


Namun, bagi yang mencari bacaan novel pada umumnya, yang punya struktur karakter, alur, plot, dan konflik jelas, buku ini kemungkinan besar akan terasa membosankan atau membingungkan. Ketidakpastian informasi di sepanjang halaman justru membuat rasa tidak nyaman itu terus bercokol di benak pembaca.


Di lingkungan tempat tinggalmu sendiri, ada legenda urban atau kisah misteri lokal yang sampai sekarang masih bikin merinding?


•••


Kutipannya:

Sepertinya hantu dan makhluk halus tidak peduli pada batas-batas administratif seperti prefektur yang ditentukan manusia, ya. (Hal. 64)


Menurutku realitas tetap penting untuk menikmati hal-hal yang gaib. Aku pun paham kalau para pembaca lebih menginginkan sesuatu yang terasa nyata, bukan hanya sekedar rekayasa. Namun, pada dasarnya, yang paling diinginkan membaca adalah menikmati cerita. Karena itu, menurutku selama selama bisa dinikmati, cerita buatan yang terasa nyata pun tidak masalah. (Hal. 83)


Orang yang suka horor akan tetap bisa menemukan kesenangan dalam pengalaman itu, meski merasa takut. Karenanya, mereka ingin orang lain juga merasa takut sambil menikmati ketakutan tersebut. Untuk itu, mereka berusaha mengekspresikan inti dari ketakutan, seperti hantu, secara detail agar bisa membuat orang lain merasakan ketakutan sebagai hiburan. Sebaliknya, orang yang tidak suka horor memandang rasa takut sebagai pengalaman pahit, sehingga mereka ingin mendapatkan empati dan dukungan dari orang lain. Mungkin karena hal itu, emosi mereka seringkali lebih cepat meluap ketimbang kata-kata yang mampu mereka ucapkan. Akibatnya, gestur tubuh yang tidak memiliki makna khusus pun akan lebih sering muncul. (Hal. 91)


Bagi mereka yang benar-benar mengalaminya, kisah horor adalah sebuah kesialan. Tapi bagi orang-orang yang membuat kisah horor, mereka seperti sudah kebal. (Hal. 153)


Peliharalah seekor hewan. (Hal. 155)


Jangan ragu untuk berbicara dengan orang di sekitar Anda dan jangan terlalu memikirkan sesuatu sendirian. (Hal. 215)


Omong-omong, apakah kamu percaya keberadaan hantu? (Hal. 283)


Hantu itu adalah sesuatu yang diciptakan oleh rasa takut manusia. Sebenarnya, kisah horor tidak selalu tercipta dari adanya keberadaan hantu dan kesaksian orang yang mengaku melihatnya. (Hal. 283)


Banyaknya kisah horor yang berlatar gunung, sungai, dan laut sepanjang zaman juga disebabkan oleh hal yang sama. Rasa takut terhadap alam yang tak bisa dikendalikan oleh manusia itu terus diceritakan dengan berbagai nama yang berubah mengikuti zaman. (Hal. 285)


Jika aku sampai harus mengakui keberadaan hantu setelah mendengar ceritamu, bagaimana aku harus bersikap menghadapi hal-hal seperti itu mulai sekarang? (Hal. 294)


Kalau seseorang tidak mempercayai sesuatu hal, maka suatu hal itu sama saja dengan tidak nyata. (Hal. 295)


Kalau kau dipuji-puji oleh orang-orang di sekitarmu, walau sebenarnya kau bukan orang yang hebat, kau pasti akan merasa mulai merasa hebat. (Hal. 355)


Semakin kuat keterikatan seseorang dengan hal-hal gaib, semakin besar pula kutukan yang akan diterima. (Hal. 361)


You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts