Review Novel Ekspedisi Paus Yunus: Fiksi Ilmiah Spekulatif yang Kontemplatif

Mei 25, 2026


Novel Ekspedisi Paus Yunus karya Ahmad Mustafa membawa pembaca menyelam ke dalam fiksi ilmiah spekulatif yang kontemplatif; simak resensi lengkapnya berikut ini.

•••


Identitas buku:

  • Judul: Ekspedisi Paus Yunus

  • Penulis: Ahmad Mustafa

  • Penerbit: Mizan

  • Tahun: 2026

  • Jumlah: 352 halaman

  • ISBN: 9786024414054

  • Kategori: Novel, fiksi, sci-fi, persahabatan, romansa

•••


Blurbnya:

Satu kapal selam rakitan, dua remaja nekat, dan jutaan misteri di dasar Palung Agung. 


Bagi Yunus Bahari, laut adalah rahim purba di mana kehidupan bermula, sekaligus tempat peradaban lain bersembunyi di dasarnya. Keyakinan itulah yang membuat ahli maritim tersebut dianggap gila karena berusaha mencarinya ke Palung Agung. Sayang, dia tewas secara misterius dalam ekspedisinya ke palung tersebut. 


Cucunya, Yunan, menolak kabar itu. Lima tahun kemudian, bersama sahabatnya, Mutiara, dia memulai pencarian dengan kapal selam rakitannya: Paus Yunus. Namun, apakah Kakek Yunus memang masih hidup? Di tengah ketidakpastian dan mara bahaya laut, keduanya menjumpai beragam spesies asing yang memunculkan pertanyaan: adakah mereka berasal dari “Kota Dalam” di Palung Agung? Dan apakah peradaban tersebut benar-benar ada?


Ekspedisi Paus Yunus lahir dari kegelisahan tentang relasi manusia dengan laut—yang melahirkan kehidupan, tetapi kini harus menanggung beban peradaban manusia. Melalui petualangan yang dibalut romansa, fantasi, fiksi-ilmiah spekulatif, pembahasan teologi, dan kritik ekologi, novel ini mengajak pembaca bertanya: bagaimana seharusnya manusia hidup berdampingan dengan alam yang melahirkannya?


•••


Ulasannya:

Buku Ekspedisi Paus Yunus karya Ahmad Mustafa membawa pembaca menyelam ke dalam fiksi ilmiah spekulatif yang kontemplatif. Buku ini tergolong menarik karena tema eksplorasi bawah laut masih jarang disentuh di Indonesia, menunjukkan betapa banyak hal yang masih perlu diungkap dan dipahami tentang Bumi. Ceritanya membawa kita turun ke daerah fiksi seperti Palung Agung dan Kota Dalam.


Melalui perjalanan ini, Ahmad Mustafa memaparkan dunia bawah laut lewat kombinasi imajinasi dan pengetahuan kelautan yang mendalam. Ekspedisi ini tidak hanya menyajikan petualangan dan persahabatan, tetapi juga memuat topik penting, mulai dari ekologi laut, keberlanjutan, risiko eksplorasi modern serta pencemaran laut yang memiliki implikasi terhadap kesehatan laut kita di masa depan.


Buku ini merupakan seruan untuk mempertimbangkan bagaimana kita dapat melindungi lautan dengan lebih baik. Penulis menawarkan pemecahan masalah ekologis tersebut lewat konsep Tiga Agenda Akbar: Revolusi Energi dan Teknologi (seperti material X penahan tekanan air), Revolusi Alam demi mengembalikan biodiversitas, serta Revolusi Manusia. Melalui analogi laut sebagai ibu dari segala kehidupan, buku ini mengajak manusia darat untuk menundukkan ego mereka.


Di sepanjang buku, aspek teologis dan spiritual juga tersebar erat di dalam narasi, mulai dari bahasan tentang penciptaan manusia hingga kisah nabi. Puncaknya, menjelang akhir cerita, refleksi ini bermuara pada istilah Kesadaran Puncak yang terinspirasi dari peradaban Homo Oceania (manusia laut) di Saul-Ardumas. Kesadaran Puncak hadir sebagai sebuah pertalian batiniah yang erat dengan Sang Maha Pencipta, sebuah bentuk ketangguhan komunal agar manusia bisa hidup berkecukupan sekaligus serasi berdampingan dengan alam tanpa merusaknya.


Buku ini unik karena ditulis tanpa pembagian bab sama sekali. Transisi ceritanya dijembatani secara visual oleh ilustrasi paus kecil. Pilihan struktur ini membuat narasinya terasa mengalir lancar seperti arus laut, apalagi buku ini juga menampilkan beberapa ilustrasi yang cantik.


Namun, jalannya cerita secara keseluruhan terasa datar karena minimnya konflik yang berat, sehingga alurnya cenderung membosankan. Penulis terlalu sering menjadikan sejumlah karakter sebagai corong teori; mereka berbicara panjang lebar secara spesifik mengenai bahasan teologi maupun sains. Penjelasan yang terlampau ilmiah dan mendetail ini berisiko membuat pembaca mengantuk dan terkesan menggurui.


Bagi penikmat fiksi ilmiah modern, teknologi kapal selam yang ditawarkan juga terasa biasa saja karena di dunia nyata manusia sudah berhasil mencapai kedalaman ekstrem. Catatan lainnya ada pada porsi romansa yang terasa kurang mulus, agak aneh, dan kaku. Dengan dunianya yang luas, buku ini sebenarnya akan jauh lebih menarik jika dilengkapi dengan peta atau ensiklopedia saku di halaman terakhir mengenai wilayah Saul-Ardumas, lengkap dengan detail penghuninya—seperti Homo Oceania, ikan buku-buku, gurita api, atau paus lemon.


Buku ini cocok bagi para pencinta dunia lautan yang ingin menjelajahi misteri bawah laut dengan sentuhan spiritual yang reflektif. Namun, jika kamu mencari cerita dengan plot yang intens, penuh ketegangan, atau romansa yang matang, kamu tidak akan menemukannya di sini.


Laut telah lama mendampingi hidup manusia sebagai awal dari kehidupan. Pertanyaannya, mampukah manusia menjaga hubungan yang telah terjalin selama ratusan ribu tahun ini?


•••


Kutipan (Quotes):

Laut itu luas. Dan ganas. (Hal. 10)


Tiada kemalangan yang lebih pedih selain ditinggalkan oleh orang yang selama ini kita sayangi. (Hal. 11)


Jangan kamu merasa Tuhan tidak menurunkan mukjizat-Nya kepada manusia selain nabi. Itu artinya kamu mengerdilkan kuasa Tuhan. (Hal. 15)


Memang tak ada manusia yang imun dari kesedihan atas kehilangan seseorang yang begitu ia kasihi dan sayangi. (Hal. 16)


Sepanjang sejarah manusia modern, kita berutang budi pada buku. Semua pemikiran manusia terabadikan ke dalam buku. Boleh dibilang, pencapaian tertinggi umat manusia adalah berkat buku, yang kemudian melahirkan buku-buku lainnya pula. (Hal. 19-20)


Kita tidak boleh menangkap ikan berlebihan. Kalau ikan tersebut termasuk langka, kita tidak boleh menangkapnya, apalagi membunuhnya. Kita harus melindungi mereka semua sekaligus menjaga lingkungan tempat mereka hidup. (Hal. 24)


Apa kalian tahu di mana makhluk hidup pertama ini muncul?

Di laut. (Hal. 27)


Kalian ingatlah ini …, semua makhluk hidup yang ada di bumi berasal dari laut. Bukan cuma ikan udang atau penyu saja. Semua organisme di bumi …,  termasuk kita manusia …, asalnya dari laut. Makanya bisa dibilang laut adalah ibu kita semua. Kita wajib menghormati, menjaga, dan mencintainya. (Hal. 28) 


Kemampuan beradaptasi adalah kunci penting dalam menjaga keberlangsungan hidup serta eksistensi suatu makhluk. (Hal. 61) 


Kitalah yang menentukan sendiri keberlangsungan diri kita di dunia ini. (Hal. 64)


Orang bilang, mati itu seperti tidur panjang belaka. Orang yang bilang begitu janganlah dipercaya, sebab aku yakin ia belum pernah merasai yang namanya mati. (Hal. 92)


Laut, alam, ciptaan Tuhan lainnya pun dapat bersedih. Bukan hanya makhluk hidup yang punya perasaan. (Hal. 102)


Bukankah laut itu menakjubkan? (Hal. 216, 312) 


Aku tak pernah mengerti mengapa laki-laki berusaha terlalu keras untuk menjadi tegar. Padahal tak ada salahnya menunjukkan kerentanan. Yah … mungkin itulah mereka. Mereka kerap lupa akan kodratnya sebagai makhluk yang tercipta dari tanah liat, dan perlu disiram oleh air mata agar hati ini tidak kering dan hancur. (Hal. 217)


Kata-kata manusia …, apa yang bisa dipercaya dari kata-kata kalian? Kalian spesies pendusta, ingkar, licik. Kalian bahkan sanggup mencelakai jenis kalian sendiri; membunuh, memulai perang, melakukan genosida. (Hal. 273)


Ketidaktahuan, ketidakpedulian, serta keserakahan hanya akan memulai penjajahan jenis baru. (Hal. 311)


You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts