Menolak Ayah: Perjalanan hidup yang berkelindan dengan adat, perang, dan pencarian jati diri.

Agustus 10, 2026


Menolak Ayah menyimpan cerita yang jauh lebih luas daripada hubungan seorang ayah dan anak. Ashadi Siregar merangkai sejarah, adat Batak, pergolakan politik, dan pencarian identitas menjadi satu kisah yang saling berkelindan. Simak review novel Menolak Ayah selengkapnya berikut ini.

•••


Identitas buku:

Judul : Menolak Ayah

Penulis : Ashadi Siregar

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun: Cetakan Ketiga: 2025

Jumlah: 434 halaman

ISBN : 978-602-424-864-2

Kategori: Fiksi, novel, sejarah, etnografi Batak


•••


Blurbnya:

Ini bukan sebuah epos dari perjuangan di masa PRRI. Hanya kisah anak Batak yang melata hingga ke Jakarta. 


Tatkala seorang laki-laki mengabaikan istrinya, hanya meninggalkan penderitaaan bagi perempuan, pantaskah dia menjadi seorang ayah? Ingatan pada ibu adalah sumber daya cinta. Perempuan adalah semesta kasih bagi Tondinihuta.


•••


Garis besarnya:

Kisah ini berpusat pada Tondinihuta, seorang anak Batak yang ditinggalkan ayahnya sejak kecil. Sang ayah memilih melepas nama marganya demi mengejar karier sebagai pejabat di Jakarta, meninggalkan Halia—ibu Tondi—yang harus bertahan hidup sebagai penjual gorengan di kolong jembatan kereta. Meski ditinggal tanpa kepastian dan tanpa kata cerai, Halia memilih tetap setia pada marga suaminya demi menjaga kehormatan mertua. Di tengah himpitan hidup, Tondi yang gagal melanjutkan sekolah terpaksa meniti jalan sebagai kenek bus antarkota.


Garis hidup Tondi perlahan bergeser ketika ia terseret ke dalam pasukan relawan PRRI. Tanpa benar-benar memahami kerumitan politik di balik senjata yang ia pegang, Tondi mendapati dirinya dilatih sebagai pejuang. Baginya dan para relawan lokal, PRRI adalah ikhtiar menuntut keadilan atas ketimpangan pembangunan daerah pascakemerdekaan di bawah pemerintahan Soekarno. Sebaliknya, bagi pemerintah pusat, gerakan tersebut tidak lebih dari tindakan separatisme. Dari belantara perang daerah, perjalanannya terus meliuk: menjadi sopir pribadi perwira Pasukan Siliwangi, hingga akhirnya hijrah ke Jakarta untuk mengelola bisnis transportasi sekaligus prostitusi. Di sepanjang persimpangan takdir itu, Tondi terus berjalan membentang hidupnya sendiri—menolak untuk terhubung kembali dengan ayah yang telah membuangnya.


•••


Resensinya:

Membaca Menolak Ayah karya Ashadi Siregar membawa pembaca menyusuri sejarah Sumatra pascakemerdekaan, sekaligus memasuki dunia yang dipenuhi tatanan Batak, pergolakan politik, hingga hubungan ayah dan anak. Lewat perjalanan hidup Tondi, Ashadi merangkai kisah tentang pencarian jati diri di tengah kekacauan zaman.


Yang paling menonjol dari novel ini justru kekayaan latarnya. Ashadi menghadirkan etnografi Batak dengan sangat rinci: mulai dari marga, relasi spiritual masyarakat dengan alam, kosmologi, hingga posisi agama asli Batak yang perlahan terdesak setelah masuknya agama-agama baru. Semua itu menjadi cara tokoh-tokohnya memandang hidup, keluarga, hingga masa depan.


Novel ini juga menghadirkan narasi PRRI dari sudut pandang yang berbeda. Ashadi memperlihatkannya sebagai bentuk kekecewaan daerah terhadap ketimpangan pembangunan yang dilakukan pemerintah pusat. Konflik politik kemudian merembet ke kehidupan masyarakat biasa, memperlihatkan bagaimana perang mampu mengubah arah hidup seseorang, memutus hubungan keluarga, menggeser nilai-nilai yang diyakini, bahkan menentukan pilihan-pilihan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.


Sepanjang perjalanan hidupnya, Tondi berhadapan dengan persoalan hubungan keluarga, agama, seksualitas, hingga pekerjaan yang kerap dipandang bertentangan dengan norma masyarakat, seperti bisnis prostitusi. Kedekatannya dengan Masrul memberi lapisan yang menarik pada pencarian identitasnya. Hubungan itu tidak pernah dijelaskan secara gamblang, tetapi cukup memberi ruang bagi pembaca untuk membaca adanya nuansa queer di antara keduanya. Bersamaan dengan itu, novel ini memperlihatkan bagaimana pengalaman-pengalaman tersebut membentuk cara Tondi memahami dirinya sendiri.


Tidak hanya itu, tokoh-tokoh perempuan seperti Halia, Longgom, dan Habibah berkali-kali menjadi pihak yang harus menanggung akibat dari terbatasnya pilihan hidup perempuan di tengah himpitan ekonomi dan dominasi sistem patriarki Batak pada masa itu. Mereka hadir dalam pusaran perang, adat, dan relasi kuasa, tetapi jarang benar-benar diberi ruang untuk menentukan arah hidupnya sendiri. 


Ironisnya, judul Menolak Ayah justru terasa lebih sempit dibanding isi novel. Penolakan terhadap sosok ayah memang menjadi pangkal cerita, tetapi tidak menjadi konflik yang dominan di sepanjang alur. Porsi cerita yang jauh lebih besar justru terserap oleh sejarah Indonesia, kebudayaan Batak, pergolakan politik, hingga proses Tondi memahami identitasnya.


Dari sisi penceritaan, Ashadi memilih gaya yang deskriptif dengan narasi yang cukup panjang dan minim dialog. Tempo ceritanya cenderung lambat karena lebih banyak mengikuti pengalaman hidup Tondi daripada membangun konflik yang intens. Meski demikian, Ashadi cukup berhasil membangun dunia Batak secara utuh. Banyaknya kosakata Batak mungkin menjadi tantangan bagi pembaca di luar Sumatra, tetapi daftar istilah di bagian akhir cukup membantu mengikuti cerita.


Secara keseluruhan, Menolak Ayah melampaui kisah seorang anak yang menolak ayahnya. Novel ini merekam sejarah Indonesia dari sudut pandang Sumatra dan masyarakat Batak, merangkai adat, politik, perang, dan hubungan keluarga dalam satu cerita yang saling berkelindan. Buku ini sangat cocok bagi pembaca yang menyukai fiksi berlatar sejarah dan isu-isu sosial.


Menurutmu, identitas kita lebih banyak dibentuk oleh pilihan sendiri atau keadaan yang kita alami?


•••


Kutipannya:

Ini masa perang pemerintah Republik Indonesia di Jakarta menyebut adanya pemberontakan. Tapi sebagian orang menyebut pergolakan daerah, yaitu wujud ketidakpuasan sejumlah pimpinan tentara di daerah terhadap pemerintahan Presiden Soekarno (Hal. 2)


Itulah sebabnya pasar di daerah itu disebut pajak. Bagi pedagang pasar, berurusan dengan pemerintah berarti pajak. Berjualan di dalam atau di luar pasar, akan dipungut cukai, tidak mau tahu dagangannya sudah laku atau belum (Hal. 6) 


Dan walau hanya kekuasaan kecil, itu pun dapat digunakan untuk merebut sumber daya ekonomi kecil-kecilan dengan menindas saingan yang orang kecil pula (Hal. 6)


Pakaian seragam, entah polisi, tentara, atau pegawai kotapraja dapat mengubah manusia menjadi makhluk yang menikmati kekuasaan (Hal. 7)


Perang dapat menjadi pintu bagi kehidupan berbeda. (Hal. 10)


Jalan adalah garis yang dibuat dari satu titik ke titik lain. Dari satu tempat menuju suatu tempat berikutnya. Tetapi bisa juga tidak kemana-mana, sebab suatu jalan yang panjang bisa jadi hanya berputar-putar di satu tempat. Setiap manusia menempuh jalannya. Ada kalanya seorang ayah memberitahu jalan yang harus ditempuh anaknya. Bahkan ada yang menyediakan jalan itu, menyiapkan jalan yang mulus, sehingga si anak dapat melangkah tanpa harus tersandung-sandung lagi. Begitulah, menemukan jalan dalam hidup ini adalah keberuntungan. (Hal. 21)


Bermacam sebab orang berperang. Ada yang karena merebut tanah. Mengapa orang merebut tanah orang lain? Biasanya karena marganya kekurangan tanah. Atau orang berperang untuk membela salah satu marga. Atau marga dipermalukan. Perang selamanya bersibunuhan. Tetapi orang berperang karena ada yang dibela. Begitulaj sebenarnya perang di negeri kita. Tetapi dua kali perang besar di negeri kita, sama sekali berbeda. (Hal. 29)


Seorang ayah berkewajiban menunjukkan jalan yang akan ditempuh anaknya. Hanya menunjukkan. Tidak hanya satu jalan yang dapat dipilih. Seorang ayah hanya menunjukkan jalan yang dianggapnya terbaik berdasarkan pengalamannya. Tetapi tidak ada jaminan bahwa jalan itulah yang akan membawa si anak mencapai tujuannya. Mungkin saja si anak menemukan jalannya sendiri (Hal. 69)


Tidak setiap orang tua memberi petunjuk agar anak-anaknya mampu memilih jalan bagi dirinya. Ada yang merasa karena kaya lalu membuatkan jalan buat anaknya. Dengan memberikan harta, dia mengira anaknya akan dapat dengan mudah menjalani kehidupan ini. Itu tidak jaminan. Tidak jaminan. Seluruh harta dunia itu belum tentu menjadi jalan ke tempat yang dituju. Di jalan itu mungkin saja si anak sebenarnya menghancurkan dirinya sendiri. (Hal. 72)


Kalau penduduk sudah semakin banyak atau manusia sudah semakin rakus, mungkin hutan-hutan itu habis ditebangi. Kalau itu terjadi, kita tidak punya jalan hutan lagi. Tapi orang mungkin tidak lagi berperang. Orang hanya sibuk memikirkan cara mengumpulkan kekayaan. (Hal. 73)


Setiap anak akan pergi, tidak semua akan pulang. (Hal. 75)


Sejarah persahabatan puluhan tahun yang lalu, yang pernah terbina selama peperangan melawan Belanda, seperti lenyap tidak berbekas dalam kehidupan negara baru, Indonesia. Bahkan penumpasan pemberontakan negara menjadi lebih kejam, sebab sering tentara yang dikirim sengaja dipilih yang berbeda agama. (Hal. 78)


Maka menebangi hutan hanya demi kekayaan dunia adalah perampokan. (Hal. 88)


Aku tidak tahu apa aku sanggup membunuh seorang manusia kalau memang harus berperang yang sesungguhnya. (Hal. 101)


Kalau kau tidak berperang, kau tidak membutuhkan senjata. Kalau kau ikut berperang, kau harus tahu siapa musuhmu. Kau harus bersungguh-sungguh membunuh. Perang dilakukan memang untuk membunuh …. Manusia selalu memilih cara perang untuk menguasai kelompok manusia lain. Perang yang kau ikuti sekarang, masih ada pihak yang mau menguasai dan ada yang bertahan tidak mau dikuasai. Setiap pihak ingin menang. Dalam setiap peperangan, hanya satu pihak yang menang. Atau kedua-duanya hancur. Tidak pernah keduanya menang. Berperang dengan setengah-setengah, perang tanpa sumangot, tidak ada gunanya. Akhir setiap peperangan itu haruslah hancur atau menang. Peperangan dilakukan dengan pertempuran, dan setiap pertempuran harus membunuh. (Hal. 107)


Perang sekarang tidak lagi mempertimbangkan hubungan kekerabatan. (Hal. 227)


kami pernah berperang untuk kemerdekaan kemerdekaan untuk apa ya untuk kehidupan yang lebih baik komandan, Kami ingin pemerintah pusat memperhatikan kehidupan kami di daerah ini tetapi inilah balasannya kami harus berperang lagi hal 230 


Perang adalah jalan. Banyak jalan untuk mencapai tujuan. Tetapi jalan yang paling singkat adalah peperangan. Sebab akhirnya sudah jelas. Kalah atau menang adalah akhir yang pasti dalam perjalanan hidup. Kekalahan dalam perang yang lebih jelas, yaitu mati. Itu lebih baik daripada melata dari hari ke hari, kekalahan dalam kemiskinan dan ketidakberartian di masa damai. Atau kemenangan. Itukah ujung jalan  yang mungkin diberikan oleh peperangan kali ini? (Hal. 236)


Tidak setiap peperangan dapat menjadi jalan kemenangan bagi pribadi yang terlibat di dalamnya. Perlukah dia tahu bahwa tetap selamat dan hidup setelah menang perang, tidak menjamin akan ikut menikmati kemenangan itu? Tidak ada hasil kemenangan. Kemerdekaan adalah kemenangan bagi suatu bangsa yang berperang. Tetapi tidak semua yang ikut berperang dapat menikmati kemenangan itu …. Dan banyak lagi pelaku-pelaku dalam perang kemerdekaan itu yang bahkan tercampak setelah kemenangan dicapai. Sedang kemenangan tidak menjanjikan, apalagi kekalahan. (Hal. 236–237)


Benarkah perang menjadi jalan bagi perubahan nasib? (Hal. 291)


Apakah hanya dengan mengikuti pertempuran bersenjata kemuliaan dapat diraih? (Hal. 293)


Tetapi bagaimana pula yang sudah mati bisa melindungi orang yang korupsi? Roh dapat dipanggil, tetapi bukan untuk melindungi orang yang bersalah. Roh hanya datang untuk memberi petunjuk. Memberi jalan. Jalan macam apa yang harus ditempuh seorang yang korupsi? (Hal. 407)


Jabatan dan kekayaan tidak lebih dari ladang yang dicangkul, atau tanah yang diinjak. Bagaimana memperlakukan ladang, akan menuai panen yang dihasilkan. Panen busuk atau bernas. Bagaimana menginjak tanah akan mengarah ke dalam percabangan yang ditempuh. Rakus atau luhur. Busuk dan rakus, ataukah bernas dan luhur, adalah pilihan hidup. Jika dia mengira kehormatan dari kekuasaan dan kekayaan itu dapat dinikmati selamanya, dia keliru. Tidak pernah kekuasaan dan kekayaan itu abadi. (Hal. 410–411)


You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts