Atheis: Ketika keyakinan diwariskan tanpa pernah benar-benar dipahami

Agustus 25, 2026

 


Meski berjudul Atheis, novel ini tidak memperdebatkan benar atau salahnya sebuah keyakinan. Achdiat K. Mihardja justru menyoroti bagaimana manusia membangun, mempertahankan, lalu mempertanyakan apa yang selama ini mereka yakini. Simak review novel Atheis selengkapnya berikut ini.


Identitas buku:

Judul: Atheis

Penulis: Achdiat K. Mihardja

Penerbit: Balai Pustaka

Tahun: Cetakan ke-35: 2024

Jumlah: 252 halaman

ISBN: 978-407-185- 4

Kategori: Fiksi, novel, roman, KDRT


•••


Resensinya:

Ekspektasi terbesar saat membuka Atheis adalah menemukan perdebatan besar tentang agama dan ateisme. Namun, setelah halaman demi halaman dilalui, Achdiat K. Mihardja lebih banyak memperlihatkan bagaimana seseorang dapat kehilangan arah ketika menerima sebuah keyakinan tanpa pernah sungguh-sungguh memahaminya.


Melalui Atheis, Achdiat K. Mihardja mengajak pembaca mengikuti perjalanan Hasan, seorang pemuda yang dibesarkan dalam keluarga religius dengan kepatuhan yang nyaris tanpa pertanyaan. Sejak kecil ia menerima ajaran tentang Tuhan, surga, neraka, dan dosa sebagai kebenaran yang tidak perlu diperdebatkan. Ketika pindah ke Bandung dan bertemu Rusli, Anwar, serta Kartini, seluruh keyakinan yang selama ini dipegangnya mulai goyah.


Yang menarik, Achdiat tidak sedang memperhadapkan teisme dan ateisme sebagai dua kubu yang saling mengalahkan. Achdiat lebih tertarik memperlihatkan bagaimana sebuah keyakinan dibentuk, dipertahankan, lalu berubah ketika bertemu gagasan lain. Bandung pada masa itu menjadi ruang pertemuan berbagai pemikiran: agama, komunisme, sosialisme, anarkisme, hingga semangat modernitas yang berkembang di bawah bayang-bayang kolonialisme. Semua itu hadir melalui percakapan yang terasa hidup sehingga pembaca perlahan memahami cara berpikir masing-masing tokohnya.


Hasan sendiri menjadi tokoh yang menarik sekaligus menyebalkan. Ia mudah terpesona oleh siapa pun yang terdengar lebih meyakinkan. Ketika taat beragama, ia mengikuti apa yang diajarkan keluarganya. Ketika bergaul dengan Rusli dan Anwar, ia kembali menerima pandangan mereka tanpa banyak mengujinya. Karena itu, keruntuhan keyakinannya terasa bukan lahir dari pergulatan filsafat yang mendalam, melainkan dari rapuhnya fondasi yang sejak awal dibangun di atas kepatuhan. Ia tidak pernah benar-benar memiliki kemandirian berpikir sehingga selalu mencari sandaran baru setiap kali sandaran lama runtuh.


Di sisi lain, Achdiat juga tidak memberi ruang yang benar-benar seimbang bagi perdebatan antara teisme dan ateisme. Tokoh-tokoh religius lebih sering memilih menghindari perdebatan, sedangkan Hasan sendiri tidak memiliki bekal intelektual untuk menanggapi argumen-argumen yang dilontarkan Rusli maupun Anwar. Akibatnya, konflik utama novel ini lebih banyak bergerak pada wilayah emosi: cinta, rasa bersalah, kecemburuan, serta keinginan untuk diterima. Pergulatan filosofisnya justru terasa kurang dalam.


Meski begitu, kekuatan Atheis justru terletak pada keberhasilannya memperlihatkan bagaimana gagasan bekerja melalui manusia. Achdiat membuat komunisme, ateisme, sosialisme, hingga anarkisme terasa mudah dipahami tanpa mengubah novel ini menjadi buku filsafat. Percakapan para tokohnya mengalir seperti obrolan sehari-hari, sementara Hasan menjadi medium yang memperlihatkan bagaimana seseorang dapat berubah ketika bertemu lingkungan baru.


Yang paling membekas setelah membaca novel ini bukanlah pertanyaan tentang ada atau tidaknya Tuhan, justru pertanyaan seberapa jauh keyakinan yang kita miliki benar-benar lahir dari proses memahami, dan seberapa jauh ia hanya diwariskan begitu saja? Membaca Atheis tidak membuat keyakinan terasa lebih rapuh. Sebaliknya, novel ini mengingatkan bahwa keyakinan yang tidak pernah diuji akan mudah goyah ketika berhadapan dengan cara berpikir yang berbeda.


Dari segi teknik, Achdiat menggunakan cerita berbingkai dengan sudut pandang orang pertama sehingga perjalanan batin Hasan terasa runtut. Diksi yang digunakan relatif mudah diikuti meski beberapa istilah lama, termasuk bahasa Belanda dan Jepang, tetap dipertahankan untuk menjaga nuansa zamannya.


Sebagai karya yang pertama kali terbit pada 1949, Atheis masih terasa relevan. Novel ini tidak menawarkan jawaban tentang agama ataupun ateisme. Yang dilakukan Achdiat ialah mengajak pembaca memikirkan kembali cara manusia membangun keyakinannya sendiri.


•••


Kutipannya:

Di dunia tiada yang tetap, tiada yang kekal, tiada yang abadi. Segala-gala serba berubah, serba bergerak, serba tumbuh dan mati. Yang abadi hanya Yang Abadi, yang tetap hanya Yang Tetap. Yang kekal hanya Yang Kekal. Tapi apakah yang demikian itu manusia tidak mengetahuinya, sebab abadi, tetap, kekal itu adalah pengertian waktu, sedang waktu adalah pengertian ukuran. (Hlm. 1–2)


Akan tetapi kepada siapakah ia harus menebus dosanya, harus menyatakan sesalnya, pabila orang terhadap siapa ia berbuat dosa itu sudah tidak lagi, sudah meninggal dunia? Kepada Tuhan? Karena Tuhan adalah sumber segala cinta, yang melarang manusia berbuat dosa terhadap sesama makhluknya? Tapi bagaimana caranya? Kepada manusia-manusia lain? Karena manusia manusia itu sama sependirian, bahwa berbuat dosa itu adalah suatu perbuatan yang dilarang? Tapi bagaimana pula caranya? (Hlm. 2) 


Bagaimanakah orang akan bisa hidup dengan menganggur. (Hlm. 6)  


Dia seorang pencari. Dan sebagai seorang pencari, maka ia selalu terombang-ambing dalam kebimbangan dan kesangsian. Tapi suatu pula, bahwa ia bukan seorang pencari yang baik. Artinya ia bukan seorang ahli pikir atau penyelidik yang radikal, yang sanggup menyelami dan memeriksa hal-hal yang menjadi soalnya itu sampai kepada akar-akarnya. Baginya agaknya cukuplah sudah, kalau dia dalam mencari itu banyak bertanya-tanya kepada orang-orang yang dianggapnya lebih tahu daripada dia. (Hlm. 7) 


Benar juga rupanya kata pepatah Belanda “in de nood leert men bidden”(kesusahan hidup mendorong kita sembahyang). (Hlm. 15)


Memang anak-anak belum meregangkan satu dari yang lainnya lantaran sikap, hidup yang berlainan. Oleh karena itu barangkali dunia ini baru akan bisa aman dan damai kalau penduduknya hanya terdiri dari kanak-kanak melulu. (Hlm. 30)


Demikian pulalah hidup sehari-hari, merupakan untaian scene ke scene …. Scene ke scene seolah tak ada pertaliannya, padahal tali hidup mempertalikannya, membentang dari scene lahir ke dunia sampai ke scene masuk lubang kubur (Hlm.42)


Sungguh kosong ucapan orang, bahwa katanya manusia itu tidak bisa berbuat sesuatu berbarengan dengan perbuatan perbuatan lain. Padahal seluruh hidupnya tidak lain daripada melakukan perbuatan-perbuatan yang berbarengan. (Hlm. 43)


Pendek kata Manusia itu adalah suatu dunia yang ramai. (Hlm. 43)


Tiada nampak apa-apa lagi kepadaku, selain ruang yang terang terang kabur, tak berbatas tak berbentuk. Tapi entahlah, apakah ruang itu, apakah waktu apakah apa, aku tidak tahu. Hanya aku tahu, bahwa itulah sembahyang yang dianggap sembahyang yang sempurna, karena hati dan pikiran kita sedang bulat menghadap ke hadirat Ilahi. (Hlm. 43)


Memang, manusia itu kadang-kadang bisa meloncat dari ujung ke ujung, berpindah niat atau pendirian dengan sangat tiba-tiba. Tapi kenapa kah sebetulnya bisa begitu? Hasil “perjuangan batin”. Apakah itu sebetulnya? Perjuangan pikiran? Perjuangan perasaan? Perjuangan kemauan? Ingatlah aku akan kata guruku, bahwa manusia itu selalu harus awas dan waspada dalam memperjuangkan sesuatu dalam batinnya, oleh karena katanya sering-sering kita tidak tahu, bahwa kita besarkan oleh bimbingan setan. Hanya orang yang bermasuk suci selalu berada dalam bimbingan Tuhan. Maksudku suci. Aku yakin akan hal ini. Dan oleh karena itu aku yakin pula, bahwa aku berada dalam bimbingan Tuhan. (Hlm. 59-60) 


Yang paling penting, yaitu bahwa manusia itu adalah makhluk yang mengandung perasaan perikemanusiaan dan pertimbangan susila atau geweten (hati nurani) …. Sifat-sifat inilah yang paling penting di samping akal pikiran tadi itu. Manusia yang paling tinggi akal pikirannya dan yang paling dalam perasaan peri kemanusiaan dan pertimbangan susilanya geweten-nya itu, maka dialah manusia yang paling tinggi derajatnya. Coba renungkanlah hal-hal ini dengan saksama oleh Saudara. Saudara lihat, bahwa soal perbedaan manusia dengan hewan saja, sudah begitu banyak segi dan coraknya. Belum lagi kita percakapan perbedaan-perbedaan antara manusia dengan manusia, atau bangsa dengan bangsa, agama dengan agama, ideologi dengan ideologi, dan sebagainya. Belum pulang kita pikirkan dan selidiki perbandingan perbandingan kekuatan antara satu golongan dengan lain golongan, satu klas dengan lain klas, seluk-beluk masyarakat, seluk-beluk ekonomi, politik …. Wah, terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu. Sesungguhnya, Saudara, hidup ini adalah suatu gudang yang mahabesar, yang sarat dengan bermacam-macam soal yang minta diselesaikan. Kebenaran dan kesempurnaan tersembunyi di dalam timbunan soal-soal itu, seperti berlian dalam himpunan rumput dan sampah yang berbukit-bukit besarnya. Dan alat yang terpenting yang ada pada manusia untuk menguapkan tumpukan soal-soal itu akan terdapat kebenaran, adalah pikiran tadi itu. Pernahkan Saudara turut memikirkan soal-soal hidup yang sebanyak itu? (Hlm. 70–71) 


Sesungguhnya kita harus selalu bersikap luas, jangan picik, apalagi dogmatis atau fanatik yang sempit. Kebenaran bukan untuk dipaksakan, melainkan untuk diyakinkan. (Hlm. 78)


Memang sesungguhnya perhatian manusia itu laksana sekelompok ayam di dalam kandang. Ditaburkan beras di sudut utara, semuanya memburu ke sudut utara. Tempat lain kosong. Ditaburkan ke sudut selatan, semuanya memburu ke sudut selatan. Tidak pernah merata pada suatu saat yang sama. (Hlm. 111)


Bahwa tiap orang itu dipengaruhi dan ditetapkan oleh pendapat dan nilai-nilai yang berlaku di antara golongannya atau klasnya sendiri. (Hlm. 112)


Tempuhlah Jalan hidup dengan hati yang tabah dan berani. Tapi itu tidak berarti bahwa kau tidak usah berhati-hati. (Hlm. 113)


Bahwa hidup itu adalah untaian perubahan, tak ada yang diam, tak ada yang kekal, melainkan berganti-ganti, berubah-ubah terus, bergerak terus. Panta rei seperti kata Herakleitos, mengalir terus. (Hlm. 133)


Saya mau berterus terang dalam segala hal. Dan terhadap siapapun juga. Kalau berterus terang itu menyakiti hati orang lain, itu pun bukan salah saya. Itu salah yang menerimanya saja. Sebab maksudku bukan mau menyakiti hati orang lain. Maksudku hanya berterus terang saja. Konsekwen berterus terang. Dan berterus terang yang konsekwen itu bertentangan dengan main pura-pura, main sandiwara, main menipu diri sendiri, (Hlm. 146)


Tapi Tidakkah ada kalanya bersandiwara itu lebih baik dan bijaksana daripada berterus terang? (Hlm. 169)


Sesungguhnya, sikap jujur dan terus terang terhadap diri sendiri itu tidak usah berarti harus bersikap demikian juga terhadap orang lain. Tegasnya, kebijaksanaan tidak usah hilang karena pendirian terus terang seperti itu. Terus terang sekali-kali tidak identik dengan kurang ajar atau sombong. Tidak identik dengan harus menyakiti hati orang lain. (Hlm. 169)


Kebenaran bukan monopoli orang tua, melainkan sediakan untuk segenap kemanusiaan. Kewajiban kitalah, sebagai pemuda perintis, untuk mencari kebenaran yang betul benar. (Hlm. 173)


Manusia suka menghitung waktu dan seluruh hidupnya dikuasai oleh waktu. Dan alam membantu manusia dalam kesukaannya. Tak bosan-bosannya pula alam menyuruh dunia, matahari, bulan, bintang-bintang, planet-planet, berputar-putar terus. Bergerak terus. Panta rei, mengalir terus, gerak terus. Memang, adakah sesuatu yang diam? Adakah sesuatu yang tidak berubah? Tidakkah semua itu berubah-ubah terus? Juga kepercayaan manusia? Juga keadaan suatu bangsa? Juga kekuasaan suatu stelsel? (Hlm. 176)


You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts