Review Novel Lenyap: Sisi Kelam Eksploitasi Kemanusiaan pada Masa Pendudukan Jepang

Juni 08, 2026

Era pendudukan Jepang tergolong jarang dieksplorasi dalam khazanah fiksi sejarah Indonesia jika dibandingkan dengan masa Belanda. Melalui buku ini, Richard Kemen mengajak kita menelusuri kembali ingatan kolektif yang kerap terabaikan, mulai dari realitas pemaksaan romusa, tragedi tenggelamnya kapal Junyo Maru, hingga penyekapan para Jugun Ianfu yang lukanya dibawa sampai tua, simak resensi lengkapnya berikut ini.

•••

Identitas buku:

Judul: Lenyap

Penulis: Richard Kemen

Penerbit: Marjin Kiri

Tahun: 2026

Jumlah: 166  halaman

QRCBN: 62-6771-1955-275

Kategori: Novel, fiksi sejarah


•••


Blurbnya:

Di masa Perang Pasifik, nasib mempertemukan seorang bocah asal Batavia dengan para prajurit KNIL di neraka mengambang: sebuah lambung kapal Jepang yang dipenuhi kuli-kuli romusa yang akan diberangkatkan ke belantara Sumatra, dengan bau menyengat dari keringat dan tinja ribuan manusia yang berjejalan. Di bagian lain kapal itu, di kabin-kabin yang lebih manusiawi, disekap para perempuan Jawa yang diangkut paksa oleh tentara Jepang.


Novel mendebarkan ini mengungkap satu babak dalam sejarah kolonial di Indonesia yang belum banyak dibicarakan.


•••


Resensinya:

Saya tidak pernah bosan dengan buku jebolan Marjin Kiri. Selalu menyenangkan membaca karya-karya yang lahir dari mereka, meski tentu tidak semuanya. Kali ini, Marjin Kiri menerbitkan Lenyap, novel setebal 170-an halaman karya Richard. Buku ini mengambil latar masa kependudukan Jepang, sebuah era yang jarang diceritakan dalam khazanah cerita Indonesia jika dibandingkan dengan masa kolonial Belanda.


Novel ini menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana watak asli militerisme Jepang bekerja selama menjajah Indonesia, terutama pada eksploitasi kemanusiaan. Richard menghadirkan narasi sistem perekrutan romusha yang pada awalnya dibungkus dengan berbagai iming-iming sebelum akhirnya berubah menjadi penindasan. Sentilan tipis diarahkan pada sosok Soekarno, kala itu yang belum menjadi presiden, ketika fotonya yang tersenyum memanggul cangkul dijadikan alat propaganda untuk menarik massa pekerja. Tekanan perekrutan bahkan digunakan Jepang untuk memaksa warga menyerahkan sanak saudara mereka, hingga seorang kakek terpaksa menukar dan menyerahkan anak laki-laki lain—dalam novel ini adalah Soemitro—agar keluarganya sendiri tidak diangkut serdadu. Sasaran mobilisasi ini tidak pandang bulu: warga sipil tua-muda, hingga mantan anggota militer kolonial Belanda (KNIL) asal Ambon dan wilayah lain yang ditawan, semuanya dijadikan romusha.


Salah satu fokus besar dalam buku ini adalah tragedi kapal Junyo Maru. Richard menggambarkan bagaimana lebih dari enam ribu orang dijejalkan ke dalam lambung kapal yang pengap tanpa fasilitas yang layak. Di dalam sana, tawanan perang berdesakan bersama romusha pribumi; mereka yang berada di geladak atas terpanggang matahari langsung, sementara rasa pengap yang menyesakkan menyergap di dalam lambung kapal. Tidak ketinggalan, para perempuan yang dibawa secara paksa untuk dijadikan budak seks (Jugun Ianfu) turut disekap di dalam kabin. Kapal tersebut kemudian karam ditorpedo oleh kapal selam Inggris di perairan dekat Mukomuko, Bengkulu, dan menenggelamkan ribuan nyawa.


Bagi sekitar ratusan penyintas yang selamat, mereka langsung dikirim untuk mengerjakan proyek rel kereta api Pekanbaru sepanjang 220 kilometer yang digunakan untuk mendukung logistik perang Jepang. Di dalam kamp Pekanbaru, para romusha dihadapkan pada kehidupan mengenaskan: kelaparan akut, serangan penyakit tropis, cambukan mandor jika menolak bekerja atau melawan, hingga ancaman kematian akibat longsoran bukit yang diledakkan untuk pembangunan rel. Di sisi lain kamp, terdapat pula barak-barak penyekapan para perempuan yang menjadi Jugun Ianfu, bahkan di antara mereka, ada yang masih belum genap berusia lima belas tahun. 


Beberapa romusha yang nekat melarikan diri ke hutan justru harus mempertaruhkan nyawa. Mereka diburu tentara Jepang dengan anjing pelacak dan ditembaki. Pada akhirnya, mereka benar-benar "lenyap".

Richard mengeksekusi cerita ini menggunakan alur campuran maju-mundur, memadukan masa lalu dan masa kini. Melalui karakter Soemitro yang perlu bersusah payah meniti ulang sejarah hidupnya dalam serangkaian wawancara di usia senja, pembaca diajak melihat bagaimana cara kerja ingatan terhadap kekerasan. Trauma, kehilangan, dan pengalaman hidup yang begitu kejam ternyata tidak pernah benar-benar hilang dari para penyintas.

Tensi ceritanya terjaga dengan baik di setiap bab. Richard menulis langsung pada inti masalah, tanpa basa-basi, dengan pilihan kalimat yang sederhana lagi indah, tetapi cukup berhasil mendatangkan kegetiran pada pembacanya.

Buku ini menjadi bacaan penting bagi mereka yang ingin membuka pintu masuk untuk memahami kekejaman pendudukan Jepang di Indonesia lewat sebuah fiksi sejarah. Lebih dari itu, Lenyap hadir sebagai sebuah pengingat bahwa dulu ada sejarah sekelam ini, ada korban yang bertumbangan, dan ada penyintas yang membawa lukanya sampai tua. Suara-suara mereka tidak boleh dilupakan.

Apakah kita akan membiarkan kisah mereka ikut lenyap, atau menjadikannya pengingat agar kekejaman serupa tidak terulang?


•••


Kutipannya:

Lagi pula, apalah arti sebutir peluru jika setiap hari popor senapan menghantam kepala, atau cemeti yang melecut punggung mereka. Ia masih bisa bangkit, dan terus melawan. (Hal. 7)


Pahlawan kerja … wahai kusuma bangsa

Anda diboyong Jepang Penguasa

Bekerja, bekerja, bekerja! (Hal. 11)


Begitu banyak kisah yang telah hilang, terkubur bersama para penyintas yang tak punya kesempatan untuk berbicara. (Hal. 11)

Serdadu-serdadu Jepang itu begitu culas, dan jauh lebih keji dari opsir-opsir Belanda yang paling kejam. (Hal. 117)


Kadang-kadang, keberanian recht evenredig met domheid (berbanding lurus dengan ketololan). (Hal. 137)


Kau tahu, dalam setiap peperangan selalu ada dua sisi mata uang. Yang satu adalah keberanian, satu lagi kebijaksanaan. Di antara keduanya terhampar jalur diplomasi yang bisa ditempuh demi stabilitas regional dan kesinambungan perjuangan. Untuk itu tactische maatregelen (langkah-langkah strategis) yang inclusieve berasaskan prinsip persatuan dan gotong royong harus diprioritaskan. (Hal. 138–139)


Laki-laki mana yang bersedia menikahi kami? Perempuan yang seumur hidup mengidap trauma akibat kekerasan seksual, kehilangan kesempatan untuk memiliki keturunan, dan nyaris tak punya hasrat lagi untuk berhubungan intim? (Hal. 165)


You Might Also Like

0 Comments

Popular Posts