Review Novel Aib dan Nasib: Ruwetnya Realitas Pedesaan
Juni 24, 2026•••
Identitas buku:
Judul: Aib dan Nasib
Penulis: Minanto
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun: cetakan kedua, 2022
Jumlah: 263 halaman
ISBN: 9786020788005
•••
Blurb:
“Malah aku heran, kenapa TV-TV tidak datang ke Tegalurung buat siaran berita. Padahal kukira setiap hari pastilah ada berita kriminal, apalagi di Tegalurung. Tidak pagi tidak siang tidak sore tidak malam.”
Kehidupan warga desa Tegalurung rasanya akan membuyarkan gambaran tipikal kehidupan pedesaan di benak kita. Alih-alih damai dan harmonis, kita dapati aneka rupa konflik dari orang-orang yang dipertemukan dalam nasib dan terjalin oleh aib—konflik-konflik yang bersumber dari permasalahan-permasalahan lama seperti asmara dan kemiskinan, maupun dari permasalahan-permasalahan baru seperti media sosial dan politik elektoral tingkat lokal.
Disusun dalam bentuk fragmen-fragmen episodik dengan alur maju-mundur, gairah eksperimentasi bentuk novel Aib dan Nasib akan memberi pembaca pengalaman naratif yang tak terlupakan.
•••
Resensinya:
Buku pemenang pertama Sayembara Novel DKJ 2019 terbitan Marjin Kiri ini kembali saya baca untuk kali kedua. Melalui Aib dan Nasib, Minanto membuyarkan bayangan tentang kehidupan desa yang damai, guyub, dan penuh sopan santun. Dia membawa pembaca ke Desa Tegalurung di Indramayu, tempat orang-orang menjalani hidup dengan segala keruwetan, kesialan, dan persoalannya masing-masing.
Hampir tidak ada tokoh yang benar-benar baik-baik saja di Tegalurung. Ada yang terjebak rumah tangga berantakan, menjadi bahan gunjingan, tumbuh tanpa pendidikan memadai, hingga harus berhadapan dengan kemiskinan yang seolah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kemiskinan menjadi benang yang menghubungkan banyak peristiwa dalam novel ini. Dari sanalah persoalan tumbuh dan berkembang. Pendidikan menjadi barang mewah, pernikahan dini dianggap biasa, kenakalan remaja dibiarkan, rumah tangga dipenuhi konflik, dan kriminalitas hadir sebagai bagian dari keseharian. Kemiskinan mendorong masyarakat pada pilihan-pilihan hidup yang sempit sekaligus membuat mereka sulit keluar dari keadaan.
Ketika modernisasi masuk lewat teknologi digital, masyarakat yang belum siap menghadapi perubahan tersebut justru mengalami kegagapan dan melahirkan persoalan baru. Remaja menghabiskan waktu bermain gawai, menyalahgunakan media sosial untuk menyebarkan konten pornografi, merundung sesama, hingga membangun identitas palsu.
Dari sekian banyak tokoh yang bernasib buruk, perempuan tampaknya mendapat bagian yang paling berat. Dalam lingkungan yang masih menempatkan laki-laki sebagai pihak yang lebih berkuasa, pilihan hidup mereka sering kali jauh lebih terbatas. Uripah, remaja dengan gangguan mental, dieksploitasi hingga hamil oleh pria yang tidak bertanggung jawab. Eni harus merantau menjadi buruh migran demi menopang ekonomi keluarga. Ironisnya, ketika laki-laki dipandang sebagai kepala keluarga, justru Eni yang memikul beban ekonomi rumah tangga. Sementara itu, Gulabia hidup dalam tekanan psikologis dan kekerasan rumah tangga tanpa memiliki banyak ruang untuk melawan. Mereka menghadapi persoalan yang berbeda, tetapi sama-sama tidak memiliki banyak ruang untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
Namun, yang membuat Aib dan Nasib terasa menarik bukan hanya kemiskinan itu sendiri, melainkan cara masyarakat merespons orang-orang yang kalah oleh nasib. Di Tegalurung, kesialan hidup seseorang mudah berubah menjadi aib. Pergunjingan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Orang yang terjatuh tidak hanya berhadapan dengan masalahnya sendiri, tetapi juga dengan omongan yang terus menempel. Aib seolah menjadi identitas yang sulit dilepaskan hingga terasa seperti nasib itu sendiri.
Menariknya, meski gemar mengumpat dan bergosip, pada saat yang sama mereka juga mampu menunjukkan kepedulian ketika ada tetangga yang tertimpa musibah. Pola tolong-menolong tetap hidup dan mengikat mereka sebagai sesama manusia yang sama-sama kurang beruntung. Paradoks inilah yang membuat Tegalurung terasa hidup dan dekat dengan realitas masyarakat sehari-hari.
Minanto membagi ceritanya ke dalam lima bab besar yang disusun melalui fragmen-fragmen episodik dengan alur maju-mundur. Kisah para tokohnya hadir secara bergantian dan saling berkelindan. Struktur semacam ini menuntut pembaca untuk merangkai sendiri hubungan antarperistiwa, tokoh, dan waktu. Meski demikian, gaya bertuturnya tetap lugas sehingga cerita relatif mudah diikuti.
Buku ini menarik bagi pembaca yang ingin melihat potret kehidupan masyarakat rural. Penyelesaiannya memang terasa anti-klimaks, tetapi justru realistis. Di Tegalurung, tidak semua persoalan menemukan jalan keluarnya. Sebagian orang pergi, sebagian bertahan, dan sebagian lainnya hanya bisa menerima keadaan.
Sebuah potret tentang bagaimana kemiskinan membentuk kehidupan manusia, lalu lingkungan ikut menentukan bagaimana nasib itu dikenang. Menurutmu, dalam realitas masyarakat kita hari ini, bagian mana yang paling sulit diputus agar seseorang bisa lepas dari lingkaran setan kemiskinan dan cap buruk yang mengikutinya?
•••
Kutipannya:
Semua orang pasti bisa hidup kalau mau tetap berusaha mencari makan. Kau bisa jadi bukti. Biar utang terus, urusan mati bisa kapan-kapan. Begitu kan? (Inem, halaman 23)
Hidup memang bukan seperti undian atau lotre apa pun. Menukar malang dengan mujur atau mengganti mara dengan untung. (Mang Sota, halaman 77)
Jalan hidup seseorang sukar ditebak. Seorang suami bunuh istri dan cucu sendiri, ada. Seorang anak bunuh ibu sendiri, ada. Bahkan bapak dan anak saling bacok, juga ada. (Halaman 262)

0 Comments