Review Novel Rasina: Menggali Monopoli Pala dan Perbudakan VOC
Juli 02, 2026Berbeda dengan narasi kolonial yang biasa diambil dari sudut pandang pribumi, Iksaka Banu menyajikan sejarah Nusantara lewat perspektif penegak hukum dan juru tulis Eropa. Melalui dua linimasa yang menyoroti pembantaian Banda 1621 dan keruntuhan internal Batavia 1755, novel ini menelusuri bagaimana monopoli pala, penyelundupan opium, serta perbudakan dilegalkan demi kekuasaan, berikut review novel selengkapnya.
•••
Identitas buku:
Judul: Rasina
Penulis: Iksaka Banu
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun: 2023
Jumlah: 587 halaman
ISBN: 9786024819866
Kategori: Novel, fiksi sejarah, genosida, kekerasan, perbudakan, kolonialisme
•••
Blurbnya:
Tahun 1755. Menjelang kebangkrutan VOC, imperium dagang terbesar di dunia, Jan Aldemaar Staalhart dan Joost Borstveld, sepasang petugas hukum, menemukan diri mereka terseret pusaran arus besar penyelundupan budak dan opium, yang melibatkan sejumlah orang penting di Batavia–Ommelanden.
Rasina adalah seorang budak bisu yang leluhurnya menjadi korban pembantaian massal oleh Jan Pieterszoon Coen saat VOC berupaya membangun monopoli perdagangan pala di Banda pada tahun 1621. Sebagai pelayan rumah tangga sekaligus budak nafsu tuannya, Rasina menjadi saksi hidup banyak hal tak terduga yang membuat jiwanya terancam. Perjumpaannya dengan Staalhart serta Joost Borstveld membuat keadaan menjadi semakin rumit, berbahaya, sekaligus membawa harapan baru.
•••
Resensinya:
Membaca karya-karya fiksi sejarah Iksaka Banu selalu memberikan pengalaman yang berbeda. Dalam Rasina, Iksaka tidak mengajak pembaca mengikuti kisah penjajahan dari sudut pandang pribumi, melainkan melalui catatan harian seorang juru tulis VOC dan penyelidikan petugas penegak hukum Belanda. Pilihan sudut pandang ini membuat pembaca melihat praktik VOC dari sisi yang berbeda. Di balik sistem kolonial yang kejam, masih ada orang-orang Belanda yang mempertanyakan apa yang sedang terjadi di hadapan mereka, meski tidak selalu mampu mengubah keadaan.
Novel ini dibangun melalui dua linimasa yang berjarak lebih dari satu abad. Plot pertama berlatar Batavia tahun 1755, ketika VOC mulai menuju masa kemundurannya akibat korupsi dan berbagai persoalan internal. Plot kedua membawa pembaca ke Kepulauan Banda tahun 1621, saat VOC berusaha menguasai satu-satunya wilayah penghasil pala di dunia melalui pembantaian dan pemindahan paksa penduduknya untuk dijadikan budak. Dua periode ini saling melengkapi. Yang satu memperlihatkan bagaimana kekuasaan dibangun, sementara yang lain menunjukkan bagaimana kekuasaan itu mulai rapuh dari dalam.
Lewat dua cerita tersebut, Iksaka mengajak pembaca melihat bagaimana kekuasaan dapat mengabaikan kemanusiaan. Orang diperjualbelikan sebagai budak, opium diselundupkan demi keuntungan, hukum dapat dibeli, dan perempuan seperti Rasina kehilangan hak atas tubuh maupun suaranya sendiri. Kekerasan dan penindasan yang dialaminya menjadi gambaran tentang sistem yang membiarkan manusia diperlakukan semena-mena untuk mempertahankan kekuasaan dan dominasi dengan berbagai cara.
Meskipun alur ceritanya bergerak lambat dan plotnya tidak terlalu rumit, novel ini mampu menghidupkan masa lalu. Iksaka menggambarkan suasana sosial masa itu dengan baik, mulai dari kehidupan di Batavia dan Banda, saudagar Tionghoa, kuli pribumi, hingga perdagangan budak. Dia juga memadukan fakta sejarah—mulai dari nama tokoh penting, peristiwa, hingga latar tempat—dengan bumbu fiksi agar ceritanya terasa lebih hidup dan menarik. Istilah-istilah Belanda dipertahankan agar suasana zamannya tetap terasa. Serunya, buku ini juga dilengkapi ilustrasi tokoh serta peta abad ke-18 yang dapat diakses melalui QR Code untuk membantu pembaca membayangkan lanskap pada masa itu.
Rasina layak dibaca oleh pencinta fiksi sejarah yang ingin melihat masa VOC dari sudut pandang yang berbeda. Novel ini mengingatkan bahwa kejayaan dan kekuasaan kerap dibangun di atas penderitaan orang lain.
Menurutmu, ketika kekuasaan dibiarkan menjadi kesewenang-wenangan, apa hal yang paling mudah dikorbankan?
•••
Kutipannya:
Beberapa kasus hukum yang akan terjadi di masa depan pasti masih memiliki satu atau dua kaitan dengan peristiwa di tahun-tahun yang lalu. (hal. 3)
Seberapa jauh sesungguhnya batas kekerasan terhadap para budak yang bisa mengantar tuan mereka ke meja pengadilan? (hal. 26)
Orang terbiasa menggunakan kekerasan untuk membangun wibawa dan kesetiaan. (hal. 28-29)
Beberapa orang ditakdirkan memiliki kemujuran berlebih. (hal. 30)
Kadang aku bingung melihat betapa ajaibnya maut memilih korban. (hal. 70)
Barulah kusadari bahwa menuangkan pemikiran pribadi secara tertulis tentang semua yang kulihat atau kualami ternyata bisa menjadi kegiatan yang sangat menghibur sekaligus menenangkan hati. (hal. 76)
Tidak ada yang melarang orang mencari kemakmuran dan kesejahteraan. Bukankah untuk itu kita datang ke Hindia? Namun, semua ada aturannya. Jangan ganggu milik pemerintah, (hal. 94)
Kita semua, orang Eropa yang ada di Hindia, adalah pedagang yang berpikir tentang untung dan rugi. (hal. 115)
Bahkan bila suatu hari perbudakan ini dilarang, aku yakin akan tetap ada orang-orang yang begitu putus asa dalam hidup mereka karena kelaparan atau terjerat utang sehingga memilih menjadi pelacur, bandit, atau budak. Dengan kata lain, menjadi budak hanyalah satu dari sekian banyak nasib yang bisa menimpa seseorang. (hal. 138)
Kami sudah puluhan tahun berdagang dengan orang Arab, India, Jawa ,Macassar, Portugis, dan Inggris. Meski sering berselisih, mereka tetap menghormati kami sebagai tuan rumah. Seperti jamaknya suatu perdagangan, kami ingin berdagang dengan siapa pun. Kami menjual rempah-rempah kepada orang-orang itu. Mereka membayar dengan emas, kain, beras, sagu, dan lain-lain. Namun, kalian orang Belanda memaksa semua pala dan fuli dijual kepada kalian dengan harga beli yang kalian tentukan sendiri, sementara, barang penukar dari kalian, terutama beras dan kain, sangat sedikit jumlahnya dan buruk mutunya. Bagaimana bisa? Ini rumah kami. Barang dagangan kami. Harga yang kalian tawarkan itu pun jauh di bawah harga beli bangsa lain. Yang paling gila, kalian menghancurkan kebun pala kami agar kami menjual pala sesuai kebutuhan dan harga yang kalian tentukan. Tak ada sisa untuk dijual ke bangsa lain. Belanda perusak! Portugis tidak pernah berbuat begitu. (hal. 150-151)
Sekarang aku bertanya kepadamu, Tuan! Bagaimana perasaanmu bila tiba-tiba ada serombongan orang asing mendatangimu, membeli paksa barang dagangan mu dengan sangat murah, melarang kamu berjualan dengan orang lain, menukar barang jualanmu dengan barang bermutu rendah, lalu mereka membangun rumah di halamanmu dan melengkapinya dengan meriam seperti itu? Dan mereka masih pula ingin memperluas dengan merebut seluruh rumahmu? (hal. 152)
Pala hanya tumbuh di sini, di Tanah Banda. Rahmat sekaligus kutukan bagi kami. (hal. 182)
Peri kemanusiaan macam apa yang kau harapkan dari perang? Di dalam perang, gigi emas di mulut pun masih bisa kau ambil paksa dengan parang, bahkan selagi pemiliknya masih hidup. (hal. 435)
Tidak selamanya kekuasaan, kepandaian, dan kekayaan menjamin manusia memiliki hati yang jujur, bersih, mulia, dan beradab. (hal. 436)
Benar-benar jahanam perang pala ini. (hal. 438)
Yang kita saksikan di depan sana adalah hasil persekongkolan sistem yang busuk, ketamakan, dan hati yang buta belas kasih. Kalau engkau berada di usiaku kelak, kau akan tahu betapa tidak adilnya dunia ini. Pepatah tua yang mengatakan kebaikan selalu menang itu omong kosong belaka! (hal. 514)
VOC adalah mesin perang paling haus darah yang pernah ada di muka bumi. Hanya merekalah yang merasa perlu menyapu habis penduduk asli sebuah kepulauan yang terletak dua belas ribu kilometer dari Negeri Belanda agar bisa memperoleh barang dagangan yang sepertinya bukan milik mereka. (hal. 557)

0 Comments